Karya Pramoedya Ananta Toer Dalam Pertunjukan ‘Bunga Penutup Abad’

JawaPos.com – Karya Pramoedya Ananta Toer akan terus hidup. Mengapreasiasi hal tersebut, Titimangsa Foundation akan menggelar kembali pementasan teater bertajuk ‘Bunga Penutup Abad’ dengan kemasan berbeda.

Setelah sukses digelar di dua kota, Bandung dan Jakarta, pertunjukan yang diadaptasi dari novel karya Pramoedya Ananta Toer ini akan dipentaskan di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki tanggal 17 dan 18 November 2018.

“Banyak yang merupakan penggemar Pram, dan banyak pula yang baru mengetahui Pram saat pameran. Para pengunjung ini mengaku betapa hatinya tersentuh dengan riwayat hidup Pram yang tidak berhenti menulis meski mengalami represi terus menerus,” ujar Happy Salma, Founder Titimangsa Foundation dalam keterangan rilisnya.

Happy menambahkan dua karya pada medium berbeda ini lahir karena kecintaan segenap tim kerja pada karya Pram. “Tulisan Pram saya harap akan abadi dengan terus memperkenalkannya pada pembaca baru dan mendorong lahirnya karya baru daripadanya,” lanjutnya.

‘Bunga Penutup Abad’ merupakan sebuah pementasan teater yang diadaptasi dari novel Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa yang termasuk dalam seri novel Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Pementasan yang digelar 2 hari ini merupakan hasil kerja keras dan kecintaan seluruh tim untuk memberi roh pada karya novel sang sastrawan.

‘Bunga Penutup Abad’ masih menghadirkan pemain yang berdedikasi dalam aktingnya dan juga dunia panggung. Pementasan kali ini akan kembali menampilkan aktor terbaik Indonesia yaitu Reza Rahadian sebagai Minke, Lukman Sardi sebagai Jean Marais, dan Chelsea Islan sebagai Annelies serta pemain cilik berbakat, Sabia Arifin sebagai May Marais.

Berbeda dengan pementasan sebelumnya, kali ini Nyai Ontosoroh akan diperankan oleh Marsha Timothy. Pementasan ini juga masih merupakan kolaborasi antara Wawan Sofwan sebagai sutradara dan Happy Salma sebagai produser.

“Pementasan teater Bunga Penutup Abad ini merupakan hasil eksplorasi dan penafsiran yang digali oleh para kreator untuk menampilkan adaptasi yang berbeda di atas panggung dan tingginya antusiasme masyarakat untuk menyaksikan pertunjukan di atas panggung,” tutup Happy.

(fid/JPC)