“Mara” upaya gagal menyibak mitos “ditindih setan”

Jakarta (ANTARA News) – Sebuah kota di Amerika Serikat dikejutkan oleh pembunuhan misterius di mana korbannya tewas oleh cekikan makhluk gaib saat tidur.

Peristiwa ini memang bukan mengada-ada karena ada saksinya yakni seorang wanita dan putrinya yang menyaksikan pembunuhan yang menimpa suaminya tersebut karena setan tidur atau “night hag” bernama Mara.

Walaupun keduanya tetap berkata jujur, sayangnya penegak hukum enggan serius menanggapinya kecuali seorang psikolog bernama Kate (Olga Kurylenko).

Kate malah penasaran atas penyebab kematian korban yang menurutnya akibat sindrom kelumpuhan saat tidur yang berujung pada kematian.

Menolak segala hal mistis dan menjunjung tinggi rasio pengetahuan, Kate berupaya membuktikan bahwa kematian korban akibat gangguan kesehatan bukan karena ulah Mara yang suka mencekik sambil menindih korbannya ketika tertidur.

Namun pandangan-pandangan ilmiahnya mulai melemah ketika Kate merasakan sendiri teror Mara. Bahkan dalam satu peristiwa, setan itu hampir mencabut nyawanya saat tidur terlelap.

Hal ini makin mendorong Kate untuk mencari tahu lebih jauh apa yang menyebabkan Mara muncul dan bagaimana cara menghentikan terornya. Berhasilkah Kate menuntaskan misteri dan teror Mara ini?

“Mara” merupakan film horor terbaru karya Clive Tonge. Sang sineas berupaya menyajikan adegan-adegan jumpscare yang cukup membuat kaget penonton.

Sayangnya, Tonge gagal menampilkan wujud hantu yang menyeramkan atau minimal membuat penonton ngeri melihat wujudnya. Tampilan Mara tak lebih dari hantu bengkok yang seremnya kalah jauh dari penampakan kuntilanak atau suster ngesot.

Selain itu plot “Mara” sangat lemah dan cenderung melompat-lompat. “Mara” tidak berhasil menghasilkan kisah yang utuh tentang mengapa korbannya ditandai dengan mata yang merah seperti kurang tidur atau sakit mata.

Bahkan film ini juga tak bisa menghadirkan kisah asal muasal munculnya “Mara” yang katanya berasal dari abad 400 SM dan sejak itu banyak memakan korban jiwa.

Penampilan aktris Olga Kurylenko juga tidak menonjol dalam film itu. Akting Olga hanya terlihat seperti wanita yang ketakutan seperti melihat setan, sebuah performa yang mungkin dianggap biasa-biasa saja oleh penonton.

Toh dari beragam kekurangan yang dimilikinya, “Mara” boleh dibilang film horor yang cukup berani memadukan unsur ilmiah dengan supernatural. Film ini berupaya mengangkat fenomena meninggal saat tidur yang menurut cerita rakyat karena “ditindih setan” atau mengapa tubuh manusia yang tertidur bisa terangkat dengan mudah. 

“Mara” berupaya menjawab hal ini dengan pandangan apakah fenomena “ditindih setan” saat tidur adalah fenomena murni supernatural atau ilmiah? Tapi sayangnya lagi-lagi jawaban yang dihadirkan sangat menggantung.

Dibintangi oleh aktris Hollywood Olga Kurylenko dan sederet bintang-bintang lainnya, “Mara” akan siap membuat penonton Indonesia tidak mau tidur setelah menyaksikan film ini.

Baca juga: “Leak” (Kajang Kliwon) film horor pertama berlatar budaya Bali
 

Oleh Aji Cakti
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2018