Anggaran BPJS untuk PBI Sudah Cair Rp 14,7 Triliun

JawaPos.com – Presiden Joko Widodo (Jokowi) memastikan bahwa anggaran untuk BPJS Kesehatan bagi penerima bantuan iuran (PBI) yang menjadi kewajiban pemerintah dibayarkan awal waktu. Anggaran PBI BPJS Kesehatan pada Februari saja, ujar presiden, mencapai Rp 6,38 triliun. Dana tersebut sudah diserahkan pada awal bulan.

Pemerintah akan kembali menggelontorkan masing-masing Rp 2,1 triliun pada Maret dan Rp 6,3 triliun untuk April. “Jangan dipikir pemerintah itu telat. Ndak,” kata Jokowi saat memberikan pengarahan di rapat kerja nasional (rakernas) Kementerian Kesehatan di BSD, Tangerang Selatan, kemarin (12/2).

Meski demikian, jelas presiden, dana yang akan diserahkan Maret dan April harus menunggu audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). “Ya kan diaudit dulu. Masak langsung kiram-kirim, enak banget. Audit BPKP, tapi kurang lebih ini angkanya,” imbuh dia.

Anggaran BPJS untuk PBI Sudah Cair Rp 14,7 TriliunPemerintah telah mencairkan dana BPJS Kesehatan untuk PBI sebesar Rp 14,7 triliun. (Rangga/Metropolitan/Jawa Pos Group)

Jokowi mengakui, sumber masalah terbesar adalah peserta pekerja informal yang tidak disiplin membayar iuran. Dia menyebutkan, pemerintah akan berupaya membantu mencari solusi dengan merujuk hasil-hasil audit BPKP. Dengan begitu, bukan hanya masyarakat yang sehat, tapi juga BPJS dan rumah sakitnya.

Sementara itu, Kepala Humas BPJS Kesehatan Iqbal Anas mengatakan, selama ini pembiayaan peserta PBI sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) 206/PMK.02/2013. Aturan tersebut memang telah gamblang mengatur cara penyediaan, pencairan, dan pertanggungjawaban iuran jaminan kesehatan PBI. “Dan tidak pernah terlambat,” ucapnya.

Yang menjadi pekerjaan rumah justru tingkat kepesertaan. Iqbal menerangkan, dalam rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN), diharapkan ada 107 juta peserta dari PBI. Namun, hingga kini yang terealisasi baru 96,8 juta. Artinya masih kurang 10,2 juta dari target. “Tentu berusaha (untuk mencapai universal health coverage/UHC, Red),” ujarnya.

Hingga kemarin jumlah kepesertaan BPJS Kesehatan sudah 217.549.455 orang. Sedangkan jumlah penduduk Indonesia sekitar 263 juta jiwa. Hal itu menunjukkan, masih banyak masyarakat yang belum menjadi peserta BPJS Kesehatan. Dia mengakui bahwa BPJS Kesehatan masih harus bekerja keras untuk mengoptimalkan jumlah peserta dengan program yang sudah ada.

“Yang utama tentu mendorong peran pemda untuk menambah kuota penduduk yang didaftarkan dan pengawasan soal kepatuhan badan usaha terkait validitas data kepesertaannya,” tutur Iqbal. 

Editor           : Ilham Safutra
Reporter      : (far/lyn/c9/oni)