Berusia Lanjut, Ratna Sarumpaet Heran Permohonan Tahanan Kota Ditolak

JawaPos.com – Terdakwa penyebar berita bohong penganiayaan, Ratna Sarumpaet merasa kecewa atas keputusan majelis hakim yang tak mengabulkan permohonan penangguhan penahanan yang dituangkan dalam eksepsinya.

Ratna merasa dirinya sudah berusia lanjut sehingga merasa perlu statusnya menjadi tahanan kota.

“Saya sudah ada umur. Saya merasa perlu (jadi tahanan kota). Dua bulan pertama (ditahan) saya sakit,” kata Ratna di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu (6/3).

Ratna heran alasan majelis hakim tidak mengabulkan permohonannya. Dia menyampaikan, apakah dirinya harus sakit parah lebih dulu, baru pengajuan tahanan kota baru dikabulkan.

“Masa saya mesti dalam keadaan parah (sekarat) baru ditangguhkan?. Orang ditahan itu ya karena takut menghilangkan barang bukti. Masa saya mau kabur, kabur ke mana orang semua dipegang. KTP saja ada di polisi, semua dipegang, jadi mau kabur ke mana?,” kata dia.

Meski begitu, dia mengaku pasrah dan sudah berusaha agar statusnya menjadi tahanan kota. Kendati ditolak majelis hakim, dia hanya berharap diberi kesehatan selama menjalani masa tahanan.

“Saya meminta (jadi tahanan kota) lalu ditolak. Ya, apa boleh buat, mudah-mudahan dikasih kesehatan,” terangnya.

Ratna juga sempat menyebut dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) tidak sesuai fakta dalam sidang pembacaan dakwaan yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Ratna Sarumpaet ditahan polisi setelah ditetapkan sebagai tersangka kasus hoax, Jumat, 5 Oktober 2018. Aktivis perempuan itu sempat menggegerkan publik karena mengaku diamuk sejumlah orang.

Cerita bohongnya itu lantas dibongkar polisi. Lebam di wajah Ratna bukan akibat dipukul, melainkan akibat operasi sedot lemak di RSK Bina Estetika.

Kemudian, Jaksa Penuntu Umum mendakwa Ratna dengan dakwaan tunggal. Dia didakwa melanggar Pasal 14 ayat (1) UU No. 1 Thn 1946 ttg Peraturan Hukum Pidana atau dakwaan kedua pasal 28 ayat (2) jo 45A ayat (2) UU No 19 Thn 2016 tentang Perubahan atas UU No 11 Thn 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Ratna didakwa telah membuat keonaran melalui berita bohong yang dibuatnya.

Editor           : Bintang Pradewo
Reporter      : Wildan Ibnu Walid