CJH Lansia di Atas 75 Tahun Capai 4.814 Orang

JawaPos.com – Setiap tahun jumlah calon jamaah haji (CJH) lanjut usia (lansia) cukup banyak. Tahun ini CJH yang berusia lebih dari 75 tahun mencapai 4.814 orang. Kementerian Agama (Kemenag) berharap para CJH lansia tersebut menjaga kesehatan hingga nanti saat musim haji tiba.

Kepala Subdirektorat Data dan Sistem Informasi Haji Terpadu Kemenag Moh. Hasan Afandi mengungkapkan, setiap tahun jumlah CJH lansia selalu banyak. Tahun lalu sekitar 60 persen CJH berusia lebih dari 60 tahun. Afandi menyebutkan, tahun ini rekor CJH tertua dipegang Rahma Alhasin. Perempuan asal Kabupaten Fakfak, Papua Barat, itu berusia 105 tahun. Rahma Alhasin tercatat lahir pada 7 Februari 1914.

Jamaah haji dengan usia lebih dari seabad juga pernah ada saat musim haji 2017. Saat itu rekor jamaah tertua dipegang Baiq Mariah. Perempuan asal Lombok, NTB, tersebut berusia 104 tahun.

CJH Lansia di Atas 75 Tahun Capai 4.814 Orang Jamaah haji lansia pada 2018 lalu dibantu petugas. (Firzan Syahroni/Jawa Pos)

Bagaimana dengan CJH termuda? Menurut Afandi, CJH termuda bernama Putri binti Lakonding. Perempuan asal Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, itu baru berumur 17 tahun. ”Lahir 13 Oktober 2001. Yang bersangkutan sudah menikah,” ucap Afandi kemarin (1/4).

Dia menjelaskan, usia minimal yang diperbolehkan berangkat haji adalah 18 tahun. Namun, Putri binti Lakonding bisa tetap berangkat karena sudah menikah. Kemenag mengatur usia minimal mendaftar haji saat ini adalah 12 tahun. ”Dulu gak ada batasannya,” katanya.

Sementara itu, persiapan penyelenggaraan ibadah haji terus berjalan. Di antaranya adalah proses perekaman biometrik bagi para CJH oleh VFS Tasheel. Sebagaimana diketahui, seluruh CJH diwajibkan melakukan perekaman biometrik sebagai syarat mengurus visa haji.

Regional Manager Area Barat VFS Tasheel Pertiwi menyebutkan, hingga Sabtu lalu (30/3), sudah lebih dari 48 ribu CJH melakukan perekaman biometrik untuk keperluan visa haji. Khusus area Jawa Tengah dan Jawa Timur, jumlahnya 6.000-an CJH.

”Namun, angka tersebut tidak sepenuhnya menggambarkan data sesungguhnya,” katanya. Sebab, CJH bisa melakukan perekaman biometrik di kota lain. Misalnya, ada yang terdaftar sebagai CJH Jawa Timur, tetapi sehari-hari bekerja di Jakarta. Dia bisa melakukan perekaman biometrik di wilayah DKI Jakarta.

Perempuan yang akrab disapa Tiwi itu menjelaskan, kebijakan tersebut dilakukan untuk memudahkan CJH. Sebab, banyak CJH yang tinggal di luar domisili atau lokasi pendaftaran haji.

Dia mengatakan, tidak ada saran khusus bagi para CJH yang akan melakukan perekaman biometrik. Untuk memperlancar proses biometrik, CJH diharapkan berkoordinasi dengan penghubung yang ada di tiap-tiap kantor Kemenag kabupaten atau kota. ”Karena untuk rapi administrasi, penjadwalkan biometrik jamaah dilakukan Kemenag,” ujarnya. Jamaah cukup membawa paspor asli pada jadwal perekaman untuk pengambilan data biometrik.