Dekan FKUI: Stunting Bukan Sekadar ASI Ekslusif atau Sedekah Putih

JawaPos.com – Isu stunting atau balita kerdil menjadi salah satu fokus di bidang kesehatan dalam debat Calon Wakil Presiden (Cawapres) ketiga, Minggu (17/3) malam. Masing-masing cawapres baik KH Ma’ruf Amin dan Sandiaga Uno punya jurus. Solusi yang ditawarkan mengundang reaksi dari akademisi kesehatan.

Cawapres nomor urut 01, KH Ma’ruf Amin menegaskan masalah stunting harus diselesaikan mulai dari akarnya yakni 1000 hari pertama kehidupan di mana bayi usia nol mulai ada di kandungan ibu. Kemudian didukung dengan pemberian ASI Eksklusif dan kolestrum saat tetesan pertama pada ASI.

Sedangkan cawapres nomor urut 02, Sandiaga Uno menjawab akan mengatasi stunting dengan sedekah putih. Caranya dengan memberikan makanan tambahan bagi anak-anak berupa susu tambahan untuk mengatasi stunting.

Dekan FKUI: Stunting Bukan Sekadar ASI Ekslusif atau Sedekah PutihCawapres 01 KH Ma’ruf Amin dan Cawapres 02 Sandiaga S Uno seusai debat pada Minggu (17/3) (DOK. ISSAK RAMADHAN/JAWAPOS.COM)

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof.Dr.dr.Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, mengkritik jawaban kedua cawapres. Baginya, persoalan stunting tak cukup hanya dengan jurus-jurus tersebut.

“Kepedulian kedua kandidat terhadap masalah stunting cukup tinggi, cuma bagaimana strategi mengatasi masalah ini belum sesuai dengan harapan. Mengatasi stunting bukan saja masalah sedekah putih atau ASI eksklusif,” tegasnya kepada JawaPos.com, Senin (18/3).

Menurut dr. Ari, stunting butuh penanganan yang menyeluruh dengan melibatkan semua sektor karena berhubungan dengan kehidupan yang layak. Sehingga kehidupan primer bisa terpenuhi dengan ditunjang oleh fasilitas kesehatan yang memadai.

“Terus terang pengetahuan kedua kandidat tentang stunting masih belum optimal. Wajar karena memang kedua kandidat tidak mempunyai background kesehatan. Stunting sepertinya kurang disadari berhubungan dengan masalah serius bangsa, anak-anak stunting akan menjadi beban saat bonus demografi nanti datang,” jelasnya.

Stunting, kata dia, bukan saja bicara soal anak-anak yang lebih pendek dari rata-rata tinggi anak seusianya tetapi juga dikaitkan dengan kecerdasan yang juga lebih rendah jika dibandingkan dengan teman-temannya. Sehingga anak-anak stunting ini tidak bisa seproduktif anak-abak seusianya di usia remaja dan dewasanya.

“Stunting bukan saja masalah asupan makanan, tetapi yang penting adalah stunting juga bicara soal kemiskinan, kemampuan untuk membeli makanan yang bergizi baik untuk ibu calon ibu, bayi baru lahir dan asupan makan untuk balita. Bahkan bukan saja untuk makanan yang bergizi untuk makan sehari-hari saja mungkin juga susah,” paparnya.

Dia menambahkan stunting juga bicara soal kematangan ibu saat menikah dan hamil. Karena memang segala sesuatunya harus dipersiapkan dengan baik. Selain itu stunting juga berhubungan dengan fasilitas kesehatan khususnya untuk kesehatan ibu dan anak. Bagaimana kondisi si calon ibu, baik sebelum menikah, saat menjadi ibu hamil, dan juga proses melahirkan sampai perawatan bayi baru lahir termasuk program imunisasinya.

Saat masa kritis pertumbuhan 1000 hari pertama kehidupan ibu hamil dan bayi yang dilahirkan tidak mengalami infeksi kronis dan tidak malnutrisi. Pengadaan air bersih menjadi penting, mengingat kualitas air yang tidak bersih membuat bayi bisa terpapar dengan diare.

Editor           : Mohamad Nur Asikin
Reporter      : Marieska Harya Virdhani