Jelang Hari Kartini, Saraswati kagumi Perjuangan Para Kartini Kendeng

JawaPos.com – Rahayu Saraswati mengatakan perayaan Hari Kartini mengingatkannya pada para Kartini Kendeng. Para perempuan petani dari Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah ini memiliki daya juang yang hebat dalam mempertahankan sumber air dan keasrian alam tempat mereka tinggal yang tersimbolisasi dalam konsep ‘Ibu Bumi’.

“Saya belajar filosofi arti perjuangan dari para Kartini Kendeng. Mereka kuat mempertahankan dan memperjuangkan prinsip-prinsip yang mereka pegang, salah satunya alam asri jangan dikorbankan untuk industri ekstraktif,” ujar anggota Komisi VIII DPR RI tersebut.

Saraswati mengatakan kegigihan dan kesabaran mereka dalam mempertahankan hak-hak hidup dan lingkungan hidup merupakan contoh nyata kecintaan terhadap tanah air. Itulah sejatinya perjuangan Kartini dulu.

Perjuangan Kartini Kendeng, menurutnya, juga merupakan alarm setiap pihak bahwa Indonesia adalah negara agraris. Jangan kita mendurhakai kesejatian Indonesia ini. Apalagi kita  menghadapi ancaman rawan pangan.

“Budaya leluhur kita itu bertani, dan itu tertanam kuat di sanubari Kartini Kendeng. Perjuangan mereka itu untuk mempertahankan budaya yang menjadi sumber nafkah mereka, mengapa di negara yang katanya agraris menjadi petani dikarang?” ujar politisi partai Gerindra itu.

Saraswati menilai aksi 9 perempuan Kendeng menyemen kaki di depan Istana Negara adalah bentuk sikap heroik dalam usaha menuntut keadilan, sebagaimana dulu Kartini lakukan.

Ia mengakui perjuangan Kartini Kendeng  menjadi salah satu pengingat baginya dalam berjuang di jalur politik.

“Keteguhan hati Kartini Kendeng menentang pemiskinan dan menolak perusakan ibu bumi tanah air memotivasi saya untuk terus berusaha membela hak-hak setiap orang melalui jalur parlemen,” katanya.

Seperti diketahui para petani Kendeng melakukan perlawanan terhadap pembangunan pabrik semen oleh PT Semen Indonesia. Perlawanan dan perjuangan menuntut keadilan mereka sudah berjalan sejak 2016.

Sejumlah petani perempuan yang dikenal sebagai Kartini Kendeng turut melakukan aksi penolakan. Mulai dari demonstrasi, aksi berdiam diri di tenda, jalan kaki Rembang-Semarang hingga aksi ekstrem yakni dua kali menyemen kaki di depan Istana Negara.

Aksi terakhir tersebut bahkan mengambil korban jiwa, Yut Patmi karena mengalami serangan jantung.

“Saya dengar perjuangan Yu Patmi diabadikan dalam bentuk monumen dan langgar untuk ibadah serta berkumpul menyusun pembelaan terhadap Ibu Bumi. Saya ingin menyempatkan diri ke sana, mendengar, semoga belum terlambat. Insyaallah,” tutur Saraswati.

Hingga kini, perjuangan warga pegunungan Kendeng, Jawa Tengah, masih berlangsung. Mereka meminta pemerintah untuk menghentikan penambangan di kawasan desa mereka. Warga juga masih menolak kegiatan pabrik semen PT Semen Indonesia di sana.