Jokowi Janji Perjuangkan THL-TBPP, Amran: Peran Mereka Sangat Vital

JawaPos.com – Pemerintah berjanji akan memperjuangkan nasib para Penyuluh Tenaga Harian Lepas-Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (THL-TBPP). Presiden Joko Widodo sadar bahwa kontribusi THL-TBPP terhadap sektor pangan amat besar.

Maka dari itu, menjadi sebuah keniscayaan ketika pemerintahannya meningkatkan kesejahteraan THL-TBPP. Pernyataan tersebut disampaikan Jokowi ketika bersilaturahmi dengan ribuan THL-TBPP di GOR Jatidiri, Semarang, pekan kemarin.

“Kita bicara apa adanya, problem THL-TBPP kita selesaikan secara bertahap. Kita siapkan dulu payung hukumnya, agar tidak nabrak-nabrak
undang-undang,” kata dia melalui siaran tertulisnya, Selasa (5/2).

Presiden Jokowi berpesan agar penyuluh untuk bersama terus mengawal dan mendampingi para petani. Terutama dalam menjaga dan meningkatkan produksi pertanian.

“Untuk jagung sebagai contoh, kita sudah bisa menyetop impor 3,6 juta, dan kita kemarin tahun 2018 sudah ekspor jagung sebanyaj 380
ribu ton. Berarti kita sudah mengurangi impor sekitar 3,4 juta ton. Ini atas kerja keras Bapak dan Ibu dari THL-TBPP,” tuturnya.

Presiden Jokowi mengingatkan perlunya mengatur waktu penanaman agar saat panen tidak over supply yang mengakibatkan harga anjlok.

“Diperlukan pengaturan-pengaturan, komunikasi antara kita diseluruh tanah air diperlukan untuk menjaga supply dan demand pada
manajemen makro,” tutup Jokowi.

Peran Penting Penyuluh Pertanian

Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menekankan bahwa kebijakan pemerintah telah membuahkan hasil luar biasa pada Era
Kabinet Jokowi-JK. Ia mencontohkan, terkait produktivitas jagung, tidak lepas dari inisiatif Kementan untuk menetapkan aturan harga
jagung di petani minimal Rp 3.150 per kg pada awal pemerintahan.

Kebijakan ini juga ditopang dengan program lain terkait produksi jagung secara besar-besaran. Programnya terobosan berupa pemanfaatan
benih unggul jagung tongkol dua dan jagung hibrida. Selain itu juga dilakukan peningkatan Indeks Pertanaman jagung di sawah, perluasan
di lahan kering, integrasi jagung-sawit lewat tumpangsari, tanam jagung di lahan hutan.

“Bahkan di lahan seperti kuburan, pematang sawah dan pinggir jalan pun ditanami jagung saat ini. Pemuda tani milenial pun bertanam jagung karena menguntungkan,” jelas Amran.

Amran, menyatakan dari aspek hilir, Kementan juga memperhatikan disediakan sarana pasca panen dan bermitra dengan Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT). Hasilnya produksi meningkat sehingga Indonesia mampu menyetop impor 3,5 juta ton, dalam hitungan kasar bila dihitung selama 4 tahun itu setara Rp 40 triliun.

Pada 2017, Amran mrnyatakan tidak impor jagung pakan ternak, dan bahkan tahun 2018 sudah ekspor 341 ribu ton.

“Memang ada impor sisa 130 ribu ton pada akhir 2018 oleh Bulog, bukan oleh swasta. Ini dibagikan khusus peternak kecil untuk pakan
unggasnya dan sebagai stock berjaga-jaga, tidak dijual bebas di pasar,” tegas Amran.

Untuk diketahui data FAO, 2018 Indonesia peringkat 8 produsen jagung terbesar dunia setelah Amerika Serikat, China, Brasil, Argentina,
Ukraina, Mexico dan India.

Soal THL-TBPP, Amran menegaskan peran mereka sangat diperlukan karena memiliki pengalaman mendampingi petani, ada yang
sudah pengalaman sampai dengan 13 tahun mendampingi petani. “Kalau bicara THL-TBPP, ya lihat saya sekarang. Saya adalah penyuluh,
suatu saat nanti ada yang bisa juga menjadi Menteri Pertanian,” tutur Amran.

Perpanjangan kontrak kerja TLH-TBPP telah ditandatangani kembai oleh Menteri Pertanian berdasarkan Keputusan Menteri pertanian nomo 67
tahun 2019 tentang tenaga harian lepas tenaga bantu penyuluh pertanian Kementan pada 2019. Di tahun awal tahun 2018 silam,
Kepmentan Nomor 72/2018 terbit dan menjadi bentuk kontrak kerja oleh 12.548 orang THL-TBPP di seluruh Indonesia.

Editor           : Imam Solehudin
Reporter      : Yesika Dinta