Kapal Tanker Namse Bangdzod Disinyalir Dibajak Perompak

JawaPos.com – Hilangnya Kapal MT Namse Bangdzod masih belum menemui titik terang. Tim SAR dan petugas gabungan lainnya masih terus melakukan pencairan dengan melakukan penyisiran di sejumlah wilayah perairan Indonesia.

Kapal tanker yang mengangkut minyak sawit mentah (CPO) itu berangkat dari Sampit pada 27 Desember 2018, seharusnya kapal tersebut sudah sampai di Tanjung Priok.

Pakar Kemaritiman Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Raja Oloan Saut Gurning berpendapat jika hilang kontaknya kapal tersebut bukan disebabkan karena faktor kecelakaan. Alasannya, tidak ada indikasi munculnya permintaan pertolongan melalui signal distress yang dikeluarkan oleh awak kapal tersebut.

“Biasanya hilang kontak umumnya akibat persoalan teknis dan operasional kapal atau gangguan cuaca buruk yang mengakibatkan kapal tidak mampu lagi melakukan operasi pelayaran. Baik tenggelam, terbawa arus (drifting) atau tubrukan akibat kapal yang tidak dapat lagi ditenggelamkan. Atau memang faktor non-teknis lain adalah kemungkinan kapal dibajak,” ujar Raja kepada JawaPos.com, Rabu (9/1).

Dari beberapa indikasi tersebut, katanya, ada potensi besar jika kapal MT Namse Bangdzod terbawa arus maupun dibajak oleh para perompak. Hal itu tercermin pada pergerakan posisi kapal yang berhasil terdeteksi di sejumlah penyedia informasi tracking kapal. 

Pantauan dari marinetraffic.com saja, kapal tersebut terakhir terlihat di radius 50 nautical mile atau sekitar Teluk Jakarta.

“Faktanya posisi kapal sudah beberapa kali ditemukan dan dideteksi oleh sejumlah penyedia informasi posisi kapal MT Namse Bangdzod baik di Karawang bahkan di sekitar Gresik,” tuturnya.

“Jadi dengan ditemukannya sejumlah deteksi (position tracking) dari kapal tersebut maka kemungkinan indikasi kapal mengalami drifting oleh arus atau gelombang dan yang kedua dibajak (dikendalikan pihak lain yang keberadaan kapal tidak dapat secara kontinu dideteksi atau ditelusuri),” tambah Saut Gurning. 

Indikasi itu semakin kuat lantaran Tim SAR, Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) dan petugas lainnya belum menemukan kapal tersebut di sejumlah wilayah perairan Indonesia yang terindikasi keberadaannya. “Berbagai armada kapal sudah dikerahkan ditugaskan oleh pemerintah (KPLP) kantor Navigasi Semarang dan sekitarnya untuk mencari kapal MT Namse Bangdzod dan belum ditemukan walau dengan asumsi terbawa arus atau gelombang,” ungkapnya.

Maka, kemungkinan terbesar mengerucut pada pembajakan kapal Namse Bangdzad. Saut Gurning menilai, tindakan pembajakan itu bisa terjadi lantaran kapal berbendera Indonesia itu membawa CPO sebanyak 1 juta liter lebih. 

“Apalagi tipe kargo yang diangkut yaitu CPO sekitar 1 juta liter dengan nilai ekonomis yang cukup tinggi sehingga menjadi motif kuat aksi perompakan ini,” kata pria yang juga pengajar di Departemen Teknik Sistem Perkapalan ITS ini. 

Dihubungi terpisah, Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, Junaidi mengatakan, pencarian kapal tanker Namse Bangdzod masih belum menemui hasil. Pihaknya bersama pemangku kepentingan lain masih terus melakukan koordinasi dalam upaya pencarian kapal tersebut.

“Sampai sekarang sudah diupayakan dan koordinasi terus. Namun sementara (pencarian) masih nihil,” jelas Junaidi.

Ihwal adanya potensi pembajakan, Junaidi enggan berspekulasi. Menurutnya, tanda-tanda aksi perompakan itu masih belum terlihat. “Sampai saat ini, belum ada tanda-tanda (pembajakan) itu,” tandasnya.

Editor      : Saugi Riyandi
Reporter : Hana Adi