Kemenhub Sesalkan Meninggalnya Taruna ATKP Makassar

JawaPos.com – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Aldama Putra Pongkala (19 tahun), taruna Akademi Teknik Keselamatan Penerbangan Makasar pada Minggu, 3 Januari 2019 akibat tindakan kekerasan seniornya.

Sekretaris Jenderal Kementerian Perhubungan Djoko Sasono menyesalkan tindak kekerasan di sekolah tersebut yang menewaskan taruna. Djoko bahkan menegaskan bahwa Kemenhub telah berulang kali memperingatkan kepada pengelola sekolah agar melaksanakan standar prosedur (protap) pengawasan dan pencegahan terjadinya kekerasan di sekolah-sekolah di bawah pembinaan Kementerian Perhubungan. 

Menurut Djoko, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi secara langsung telah memerintahkan Kepala Badan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Perhubungan untuk membentuk tim investigasi internal guna melakukan investigasi penyebab kasus tersebut. “Kemenhub segera membentuk tim investigasi internal yang akan diketuai Sekretaris BPSDM Perhubungan,” kata Djoko dalam keterangannya, Rabu (6/2).

Menindaklanjuti kejadian tersebut, Kemenhub juga mengambil langkah internal terhadap unsur sekolah yang lalai sehingga peristiwa tindak kekerasan terjadi lagi. 

Selanjutnya Kemenhub juga akan bertanggungjawab terhadap seluruh proses mulai dari rumah sakit sampai dengan pemakaman. Kemenhub menyerahkan penanganan kasus ini kepada Kepolisian untuk diproses sesuai hukum yang berlaku.

“Menhub Budi menginstruksikan kepada Kepala BPSDMP agar lebih meningkatkan pengawasan dan pembinaan, secara edukasi maupun peningkatan moral taruna-taruni sekolah tinggi di bawah pembinaan Kemenhub untuk mencegah terulangnya kasus ini ke depan,” kata dia.

Sebelumnya, Polisi menetapkan M Rusdi sebagai tersangka. Taruna tingkat II ATKP Makassar itu diduga menganiaya juniornya hingga tewas. Penetapan didahului dengan pemeriksaan 22 saksi. Umumnya mereka yang diperiksa adalah rekan setingkat tersangka hingga internal kampus.

“Tersangka melakukan kekerasan fisik, menyuruh korban untuk bersikap tobat. Kaki di lebarkan dengan kepala di bawah sebagai tumpuan dan kedua tangan di belakang pinggang,” kata Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Dwi Ariwibowo dalam ekspos penetapan tersangka di Mapolrestabes Makassar, Selasa (5/2).

Kekerasan berlanjut setelah tersangka menyuruh korban agar bangun. Dada korban dihantam berulang kali oleh tersangka. Beberapa saat kemudian, korban oleng dan terjatuh.

“Karena panik, tersangka dan taruna-taruna lain sempat berikan pertolongan pertama dengan nafas bantuan. Terus dilarikan ke ruang perawatan sebelum dibawa ke rumah sakit terdekat,” ucap Dwi.

Namun sebelum mendapat perawatan medis, korban dinyatakan meninggal dunia. Saat ini tersangka M Rusdi diamankan di Mapolrestabes Makassar untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Tersangka disangkakan melanggar pasal 338 dan 351 KUHP dengan ancaman hukuman 7 hingga 15 tahun penjara.

Editor           : Teguh Jiwa Brata
Reporter      : Hana Adi