Kementan Soft Launching Biodiesel B100, Lebih Efisien dari Solar

JawaPos.com – Pengembangan energi terbarukan merupakan sebuah keniscayaan. Tiap tahun, kebutuhan energi makin meningkat seiring makin bertambahnya penduduk serta dinamisnya aktivitas manusia. Salah satu sumber energi pengganti bahan bakar fosil adalah biodiesel.

Indonesia memiliki potensi yang amat besar dalam hal pengembangan biodiesel. Khususnya Crude Palm Oil (CPO).

Pasalnya, Indonesia adalah penghasil kelapa sawit terbesar di dunia. Pada 2018 produksi CPO mencapai 41,67 juta ton. Sementara ekspor CPO mencapai 34 juta ton dengan nilai sekitar Rp 270 triliun.

Merespons hal tersebut, hari ini (15/4) Kementan meluncurkan soft launching uji coba perdana penggunaan B100. Biodiesel B100 merupakan bahan bakar biodiesel yang digunakan secara langsung pada mesin diesel tanpa dicampur dengan minyak fosil.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, pengembangan B100 merupakan langkah nyata pemerintah dalam mengurangi penggunaan energi fosil. Sejak 2014 hingga 2018, pemerintah mulai merintis mengembangkan Biodiesel B20.

Terbukti pada 2018 produksi biodiesel B20 mencapai 6,01 juta kiloliter meningkat 82,12% dibanding 2014 sebesar 3,30 juta kiloliter.

“Meskipun demikian, Indonesia masih mengimpor solar 10,89 juta kiloliter. Karena kebutuhan solar dalam negeri untuk 2019 diproyeksikan mencapai 31,19 juta kiloliter, sementara produksi solar dalam negeri 20,8 juta kiloliter. Maka dari itu, kehadiran B100 ketika digunakan secara massal diharapkan mampu menggantikan solar,” ujar Amran di Kantor Kementan, Jalan HM Harsono, Ragunan, Jakarta Selatan.

“Kami saat ini telah berhasil membuat reaktor biodiesel multifungsi generasi ke-7 yang mampu mengolah 1.600 liter bahan baku/hari,” lanjut dia.

Dari hasil penelitian, jelas Amran, penggunaan biodiesel lebih efisien dibandingkan dengan penggunaan solar. Untuk transportasi mobil berdasarkan hasil pengujian oleh Badan Litbang Pertanian, 1 liter biodiesel bisa menempuh jarak 13,1 km, sementara solar hanya 9,6 km.

Dengan kata lain, efisiensi biodiesel mencapai 136,4% sehingga upaya konversi solar ke biodiesel sangat diperlukan.

“Pada sektor pertanian, produksi biodiesel B100 selain digunakan untuk kendaraan angkut (mobil) produk-produk pertanian juga dapat dimanfaatkan untuk alat dan mesin pertanian seperti traktor roda 2 dan traktor roda 4 dan lainnya,” ungkap Amran.

Amran memaparkan, untuk mengkonversi kebutuhan solar 10,39 juta kiloliter yang berasal dari impor senilai Rp 99,74 triliun, dibutuhkan 7,61 juta kiloliter biodiesel B100 senilai Rp 73,09 triliun. Atau setara dengan 8,83 juta ton CPO.

“Berdasar perhitungan ini, diperoleh penghematan devisa senilai Rp 26,65 triliun. Kita juga berpotensi menghemat impor solar 7,79 juta kilo liter senilai Rp 74,8 triliun” ungkap menteri asal Bone, Sulawesi Selatan tersebut.

Dia mengungkapkan bahwa selain dari aspek ekonomi, penggunaan biodiesel juga secara teknis mengefisienkan penggunaan energi dan ramah lingkungan. Sebagai contoh, karbonmonoksida (CO) biodiesel B100 lebih rendah 48% dibanding solar.

“Selain itu industri biodisel juga bisa meningkatan kesejahteraan pekebun sawit melalui terciptanya peluang pasar domestik yang besar,” jelas dia.

Amran optimistis bahwa dengan produksi B100 9,99 juta kiloliter denga nilai Rp 84,6 triliun mampu mengurangi solar 34,4 persen. “Soft launching uji coba perdana penggunaan B100 lingkup terbatas ini, menjadi tonggak sejarah bagi bangsa kita untuk memasuki era B100 yang lebih massal di masa yang akan datang,” pungkasnya.