Kepala Pushidrosal Sempat Waswas sebelum CVR Lion Air Ditemukan

JawaPos.com – Detik-detik menjelang jatuhnya Lion Air PK-LQP (JT 610) pada 29 Oktober 2018 segera terungkap. Sebab, cockpit voice recorder (CVR) telah ditemukan tim penyelam TNI-AL. Di dalam kotak hitam itulah, percakapan terakhir pilot dan kopilot terekam selama dua jam.

Kemarin (14/1) kotak hitam tersebut diserahkan TNI-AL kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) di PT Jakarta International Container Terminal (JICT) 2 Tanjung Priok.

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono menyatakan kesanggupannya untuk segera memproses isi CVR. Penyidik KNKT Nurcahyo Utomo yang hadir dalam penyerahan CVR itu menjelaskan, setidaknya butuh waktu lima hari untuk mengetahui isi rekaman kotak hitam tersebut.

Kepala Pushidrosal Sempat Waswas sebelum CVR Lion Air DitemukanKondisi bagian kotak hitam (black box) berisi CVR pesawat Lion Air bernomor registrasi PK-LQP dengan nomor penerbangan JT 610 yang telah ditemukan oleh Dislambair. (Fedrik Tarigan/Jawa Pos)

Perinciannya, 4 hari untuk mengeringkan CVR dan 1 hari untuk membersihkan garam laut. “Setelah itu, dua sampai tiga jam untuk men-download memori dan memindahkan ke CVR baru,” tuturnya. Jika dihitung sejak berita dimuat hari ini, berarti tinggal empat hari lagi KNKT bisa mengetahui isi black box.

Nurcahyo optimistis kondisi memori masih bagus. Dia juga berharap CVR itu memuat percakapan penerbangan sebelum kecelakaan. Setidaknya penerbangan dari Denpasar ke Jakarta yang terjadi pada malam sebelum kecelakaan. “Kalau nanti memorinya tidak bisa di-download KNKT, CVR akan dikirim ke pabriknya,” tutur Nurcahyo.

Penemuan CVR itu diapresiasi Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Dirjen Perhubungan Udara Polana Pramesti yang kemarin datang pada acara penyerahan CVR tersebut berharap KNKT segera mengungkap penyebab kecelakaan. “Apa yang dihasilkan KNKT, harapannya bisa menjadi masukan dan evaluasi,” tuturnya.

Posisi CVR tersebut terdeteksi KRI Spica 934 tepat sepekan setelah bertolak dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Bersama penyelam dari Komando Armada I yang terdiri atas prajurit dinas penyelamatan bawah air (dislambair) serta anggota Komando Pasukan Katak (Kopaska), mereka berhasil mengambil black box dari timbunan lumpur dasar laut sedalam 8 meter.

Panglima Komando Armada I Laksamana Muda TNI Yudo Margono menjelaskan, anak buahnya harus menyelam sampai kedalaman 30 meter sebelum menggali timbunan lumpur yang menutupi CVR tersebut. “Agak kesulitan. Tetapi, berkat kegigihan kami, CVR itu dapat ditemukan,” kata dia. Berdasar informasi dari Koarmada I, CVR ditemukan pada pukul 08.45.

Kepala Dinas Penerangan Komando Armada I Letkol Laut (P) Agung Nugroho menyebutkan, tim yang turut dalam pencarian CVR menyelam sejak Jumat (11/1). “Pada kedalaman 28 sampai 42 meter,” terangnya. Agung menyampaikan, penyelam turun ke bawah permukaan laut selama 20 menit sampai satu jam secara bergantian. “Mencari dan mendengar suara ping CVR Lion 610 dan dibantu penyapuan dengan magnetometer oleh KRI Spica 934 untuk mendeteksi posisi CVR,” bebernya.

Kepala Pushidrosal Laksda TNI Harjo Susmoro mengatakan sempat waswas. Sebab, pihaknya hanya punya waktu dua minggu untuk mencari CVR. Alasannya, ping detector pada black box diperkirakan mati minggu ini. “Padahal, saat ini musim hujan. Jarak pandang di dalam air juga kecil,” ucapnya. 

Editor           : Ilham Safutra
Reporter      : (syn/lyn/c7/oni)