Keren! Universitas Terbuka Ekspansi ke Timor Leste

JawaPos.com – Universitas Terbuka (UT) mengejar target melayani 10 ribu mahasiswa di luar negeri. Di antara upayanya adalah melebarkan sayap layanan hingga Timor Leste. Di sana, layanan UT tidak hanya untuk warga negara Indonesia (WNI), tetapi juga bagi warga setempat.

Rencana ekspansi layanan pendidikan tinggi oleh UT tersebut disampaikan oleh Wakil Rektor Bidang Akademik UT Mohamad Yunus. Dia menuturkan, saat ini jumlah mahasiswa UT di penjuru dunia sekitar 2.300 orang.

“Satu-dua tahun ke depan target kami punya 10 ribu mahasiswa di luar negeri,” katanya saat bertemu dengan sejumlah atase pendidikan dan kebudayaan di Jakarta Kamis (14/2).

Yunus menuturkan, salah satu upaya mengejar target mahasiswa di luar negeri yang sebanyak itu, mereka akan membuka layanan pendidikan tinggi di Timor Leste. Khususnya di kota Dili.

Dia memperkirakan antara April sampai Mei mendatang, layanan pendidikan tinggi jarak jauh UT di Timor Leste sudah bisa beroperasi. Yunus mengatakan, ada permintaan dari warga negara Timor Leste supaya UT membuka layanan pendidikan tinggi jarak jauh di sana.

Dia mengatakan, sejumlah warga Timor Leste banyak yang berstatus alumni UT. “Mereka dulu kan bagian Indonesia,” jelasnya.

Sehingga banyak alumni UT yang berstatus sebagai warga negara Timor Leste, menginginkan anak atau cucunya kuliah di UT. Selama ini sekitar 150 orang di Timor Leste mengikuti layanan pendidikan tinggi UT yang ada di Kupang.

Setiap ujian tiba, mereka menyeberang ke Atambua untuk mengikuti ujian. Nah dengan dibukanya layanan pendidikan tinggi UT di Timor Leste, maka mahasiswa UT di sana tidak perlu lagi ke Atambua untuk mengikuti ujian.

Yunus juga menceritakan, UT baru saja menemukan strategi menyelenggarakan ujian jarak jauh. Sistem ujian jarak jauh ini bisa dipercaya, meskipun pesertanya tidak dijaga atau diawasi oleh petugas. Mereka menyebutnya sebagai online proctoring examination.

Layanan ini sempat diuji coba di Jepang beberapa waktu lalu. Secara teknis sistem ini akan memindai retina peserta ujian.

Kemudian juga memindai ruangan ujian. Dengan berbasis kecerdasan buatan, sistem ini mampu menganalisa apakah peserta ujian melakukan tindakan yang mencurigakan atau tidak. Mencurigakan dalam arti peserta ujian sedang mencontek atau tidak.

Editor           : Estu Suryowati
Reporter      : Hilmi Setiawan