Kisah Pilu Pekerja Migran Ilegal, Dimaki Staf KBRI Syria Lalu Dijual ke Irak

JawaPos.com – Malang nian nasib Endang Heriyati, warga Benyawakan Jaya, Tangerang, Banten. Dia harus menelan pil pahit setelah menjadi pekerja migran ilegal. Faktor ekonomi membuatnya harus menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) walaupun sejatinya ia tak ingin. Namun sayang, jalur ilegal yang dipilih.

Awal mula pada 2018, Endang menerima tawaran dari agen TKI untuk bekerja di Arab Saudi dengan iming-iming gaji senilai Rp 5 juta. Dia pun memutuskan untuk berangkat.

“Saya berangkat bulan puasa ke Jakarta, lalu (diberangkatkan lagi dari Jakarta) ke Surabaya. Di Surabaya saya ditampung dua minggu dan diberangkatkan ke Malaysia,” kata Endang ketika bercerita di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, Selasa (9/4).

Namun nyatanya bekerja di Arab Saudi merupakan janji palsu. Sesampainya di Malaysia, Endang malah disuruh bekerja sebagai pembantu rumah tangga di sana. Anehnya, dia tidak mendapat gaji. Dia lantas dikirim lagi ke Dubai. Lagi-lagi dia tidak menerima uang sepeser pun. Agen lantas mengirim dia ke Turki dan bekerja selama dua Minggu.

Sama, dia juga tak mendapatkan upah. Endang lalu dikirim ke Sudan hingga berujung di Syria. “Di Syria saya bekerja selama tiga bulan. Saya tidak dapat hasil sama sekali. Saya minta uang gaji saya, saya ingin kirim ke orang tua tapi nggak sama sekali,” cerita dia.

Endang lalu memutuskan kabur dari majikannya di Syria setelah diajak teman sesama imigran yang berasal dari Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Dia lari ke kedutaan. Ketika datang, Endang menyampaikan dirinya pekerja migran ilegal yang tidak digaji selama bekerja. Dia meminta pertolongan agar bisa dipekerjakan secara layak di negara itu.

Bagai buah simalakama. Dia malah mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari staf kedutaan di Syria. Endang dicaci maki dan dihina staf yang disebutnya bernama Holik.

“Enak aja. Kamu pengin pulang? Kalau pengin pulang nggak usah acting kayak gitu deh. Kalau pengin pulang, bisa nggak kamu ganti uang delapan ribu dolar? Tahu nggak delapan ribu orang berapa, 100 juta lebih. Kalau kamu bisa ngadain uang segitu sekarang juga kamu bisa pulang ke Indonesia,” ucap Endang menirukan perkataan Holik.

Endang lantas menjawab tidak akan bisa mengumpulkan uang sebanyak itu. Sebab dia dari keluarga tidak mampu dan selama bekerja tak menerima upah sepeser pun.

Staf itu malah menyahut dengan menyebut-nyebut nama Presiden Joko Widodo. “Jokowi saja sudah capek urusin orang-orang kayak kamu. Sudah dipulangin, sudah tahu negara konflik masih saja datang. Jokowi itu sudah lelah sudah capek ngurusin TKW-TKW yang nggak tahu diri. Sudah dipulangin masih aja datang. Lo alasan saja biar bisa pulang,” jawab staf tersebut seperti penjabaran Endang.

Habis dicaci maki, dia lantas ingin dikembalikan ke agen pengiriman TKI. Endang sempat menyampaikan enggan dikembalikan dan takut dipukulin.

“Kata dia (Holik), saya bisa apa kamu kan dijual. Sedikit pun kamu sudah terima uang dan harus terima risiko. Mau dipukul, mau idup, mau mati, intinya kamu dijual, saya ndak bisa apa-apa, katanya,” ulas Endang dengan kepiluan yang tampak dari sorot matanya. Endang Heriyati, warga Benyawakan Jaya, Tanggerang, Banten. Dia harus menelan pil pahit setelah menjadi pekerja migran ilegal. (Desyinta Nuraini/ JawaPos.com)

Usai dikembalikan ke kedutaan, akhirnya Endang dijual ke Irak. Di sana dia mendapat musibah. “Saya mau kena hukuman mati. Saya disiksa majikan, diperkosa anak majikan, saya dituduh mencuri tanpa adanya bukti, saya dijebloskan ke penjara dalam keadaan hamil tiga bulan,” tutur Entang seraya menahan tangis di balik topeng yang menutupi wajahnya.

Dia kesal. Seandainya pihak kedutaan di Syria tak mengembalikannya ke agen, mungkin beragam musibah tersebut tak akan terjadi. Untung saja, masih ada orang baik yang menolongnya.

“Tapi kan ada orang nolong saya dari KBRI Baghdad, CIF Foundation, dari IOM. Kalau bukan karena mereka saya nggak bakal ada di sini,” sebut Endang.

Kini dia kapok untuk menjadi pekerja migran. Dia berharap agar kejadian yang dialaminya tidak dirasakan para pekerja migran yang masih berjuang mencari nafkah di negeri orang.

Editor : Bintang Pradewo

Reporter : Desyinta Nuraini

Copy Editor : Fersita Felicia Facette