Kisah Relawan Selamatkan Warga Pulau Sangiang yang Terdekat dari GAK

JawaPos.com – Membantu evakuasi korban tsunami membutuhkan pengalaman dan pertimbangan akurat. Jika tidak, evakuasi bisa gagal. Misalnya, yang dilakukan anggota Ditpolairud Polda Banten Brigpol Mujib Burohman.

Dia berinisiatif meminjam kapal nelayan untuk menyelamatkan korban tsunami.

Minggu (23/12) itu Mujib mendengar kabar tentang warga yang terluka akibat tsunami. Warga tersebut terisolasi di Pulau Sangiang. Dengan menggunakan kapal patroli, pukul 08.00 Mujib bersama tim langsung menuju Pulau Sangiang. Pulau tersebut merupakan salah satu pulau terdekat dengan Gunung Anak Krakatau (GAK).

Kisah Relawan Selamatkan Warga Pulau Sangiang yang Terdekat dari GAKPolair Polda Banten melakukan pemantauan di sekitar Pulau Sangiang, Banten, Kamis (27/12). (Imam Husein/Jawa Pos)

Saat itu erupsi terus terjadi. Kondisi ombak tidak normal. Tingginya 2-4 meter. “Seluruh anggota patroli terbilang nekat. Tetap melaju walau kapal terasa seperti naik turun, seperti terjun bebas,” ungkap Mujib saat ditemui di pos Polairud Pelabuhan Paku Anyer.

Setelah 30 menit diombang-ambing ombak, kapal patroli bisa mendekat ke Pulau Sangiang. Namun, masalah lain muncul. Kapal tidak bisa masuk ke sungai untuk menuju titik kumpul warga. “Ada dua jalur. Pertama, sungai, tapi terlalu dangkal. Kedua, jalan setapak, tapi butuh waktu 6 jam,” tuturnya.

Jalan setapak jelas bukan pilihan. Sebab, sebagian korban dalam kondisi terluka. Mujib memutar otak. Dia mencari cara untuk bisa mendekat ke titik kumpul korban. “Saat itu terlihat ada kapal nelayan yang sandar, menghindari ombak besar.”

Akhirnya, bersama rekan-rekannya, Mujib merayu nelayan tersebut. Dia menuturkan, nelayan itu mau membantu asalkan ada jaminan dibantu kalau perahu kandas. “Ya, kami akhirnya masuk melalui sungai. Baru sampai pukul 10.00,” tuturnya.

Ada 21 korban yang terisolasi di Pulau Sangiang. Mereka akhirnya berhasil dievakuasi sampai ke kapal patroli dengan dua kali bolak-balik menggunakan perahu nelayan.

“Evakuasi ini berlomba dengan waktu. Sebab, sewaktu-waktu sungai bisa surut lebih dalam,” ungkapnya.

Hari selanjutnya, kembali ada informasi tentang tiga warga Pulau Sangiang yang belum dievakuasi. Akhirnya, tim patroli Ditpolairud kembali ke pulau tersebut. “Kali ini evakuasi sulit karena posisi korban berada di bukit,” ujarnya.

Untuk mendaki bukit itu, dibutuhkan waktu sekitar 2 jam. Jaraknya beberapa kilometer dari pantai Pulau Sangiang. “Kalau tinggi bukit, entah berapa. Saat itu kepikirannya bagaimana secepatnya mengevakuasi,” kata Mujib.

Akhirnya, tiga korban itu ditemukan. Namun, salah seorang mengalami patah kaki. Mujib dan rekannya, Brigpol Wawan, berinisiatif membikin tandu darurat dari batang pohon. “Saya bersama Brigpol Wawan menandu satu korban turun bukit hingga ke kapal,” terangnya.

Upaya evakuasi itu memang membutuhkan kecepatan dan keahlian. Dengan demikian, hambatan bisa diatasi demi potensi keselamatan korban yang lebih besar. “Berbagai cara bisa ditempuh. Yang penting korban tidak bertambah.” 

Editor      : Ilham Safutra
Reporter : (idr/c5/oni)