Komnas Perempuan Sebut Penyebaran Hoax RUU PKS Secara Sistematis

JawaPos.com – Komnas Perempuan menyayangkan begitu banyaknya pesan hoax terkait RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS). Padahal komisi menjadi salah satu perancang naskah akademik dari RUU tersebut.

Ketua Komnas Perempuan Azriana menuturkan, dukungan publik yang dilakukan Gerakan Aksi Masyarakat Sipil pada Desember 2018 lalu sudah cukup membuktikan bahwa Indonesia membutuhkan RUU PKS. Hal itu diperkuat dengan hasil dialog bersama saat itu. Yakni, DPR menaruh komitmen politik untuk membahas dan mengesahkannya pada 2019.

Setelah kesepakatan itu, Komnas Perempuan merasa tidak ada polemik. Akan tetapi belakangan ini terjadi banyak hoax bermunculan. Atas hoax ini Azriana meminta penyebar hoax agar bertanggung jawab atas perbuatannya.

“Pihak-pihak yang melakukan pembohongan publik dengan menyebarkan informasi yang tidak benar tentang RUU PKS supaya segera menghentikan tindakannya. Ini demi menjaga situasi tetap kondusif, untuk penghapusan kekerasan seksual di Indonesia,” ujar Azriana saat ditemui di kantornya, Jakarta Pusat, Rabu (6/2).

Adapun hoax terkait RUU PKS, yakni pesan-pesan negatif yang membuat kesalahpahaman masyarakat terhadap substansi dari RUU tersebut. Yakni menyarankan perzinahan atau free sex dan hingga LGBT.

Agar hoax terkait RUU PKS ini tidak begitu menyebar luas, Azriana mengimbau masyarakat untuk mencari konfirmasi, sebelum menyebarkan informasi tersebut. “Informasi tersebut dapat dilihat melalui website DPR dan Komnas Perempuan,” katanya.

Ke depan, kepada masyarakat yang ingin mengkritisi RUU PKS agar melakukan dialog dengan Komnas Perempuan, DPR, dan jaringan masyarakat sipil relevan yang selama ini mendampingi kebutuhan korban kekerasan seksual.

Meski merasa dihujani hoax dan disinformasi, Komnas Perempuan tetap berharap panitia kerja (panja) Komisi VIII DPR agar selalu fokus membahas RUU PKS. Sebab RUU itu diharapkan bisa menjadi jaminan perlindungan negara terhadap para korban yang mengalami kekerasan seksual.

Editor           : Ilham Safutra
Reporter      : Yesika Dinta