LDII Kaji Perkembangan Profesionalisme Hybrid

JawaPos.com – Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) terus mencermati perkembangan dunia saat ini. Di antara yang saat ini mereka kaji adalah profesionalisme hybrid. Maksudnya, seseorang dituntut untuk bisa berkolaborasi dan memanfaatkan teknologi maju dalam pidang pekerjaannya.

Ketua DPP LDII Prasetyo Sunaryo menuturkan, ada sejumlah tujuan dalam pengembangan profesionalisme hybrid oleh LDII. “Memperkenalkan pada masyarakat, bahwa ada perubahan dalam pendayagunaan profesionalisme. Karena berubahnya sistem nilai,” katanya di kantor LDII Jakarta Rabu (26/12).

Selain itu pengembangan profesionalisme hybrid juga digunakan sebagai upaya membangun pusat-pusat kepemimpinan atau leadership. Menurut Prasetyo, kepemimpinan abad XXI menuntut seseorang yang bisa melahirkan gagasan baru, pemikiran atau produk baru.

Dengan adanya pusat kepemimpinan tersebut, dia berharap bisa menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas, mandiri, dan memiliki jiwa kepemimpinan. Kemudian pengembangan profesionalisme hybrid juga menuntut adanya proses integrasi kapasitas manusia dengan pemanfaatan teknologi digital.

“Kita tahu teknologi digital berkembang terus,” jelasnya.

Menurut dia perkembangan teknologi tersebut yang menjadi semangat adanya profesionalisme hybrid. Dia menjelaskan ada beberapa contoh dalam penerapan profesionalisme hybrid, di antaranya adalah hybrid marketing, atau penggabungan antara teori marketing tradisional dengan digital marketing.

“Jadi, ilmu yang lama tetap tidak ditinggalkan. Ditambah dengan ilmu baru yang berbasis teknologi,” tuturnya.

Prasetyo lantas mengatakan, perkembangan teknologi harus dimanfaatkan untuk kepentingan positif. Kemajuan teknologi jangan malah menjadi ajang untuk menyebarkan berita tidak benar atau bahkan fitnah.

Dia mengatakan, saat ini ada fenomena kedangkalan dalam kemampuan membaca. “Berita yang kita terima langsung disebar. Tidak dikritisi terlebih dahulu,” tuturnya.

Editor      : Estu Suryowati
Reporter : (wan/JPC)