Menag: Milenial Umat Digital, Senang Materi Agama yang Dikemas Kreatif

JawaPos.com – Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin menyebut Indonesia akan mendapatkan bonus demografi pada 2045 mendatang. Menurutnya, tidak kurang dari 70 persen penduduk akan berada pada usia produktif.

Oleh karena itu, kata dia, penting bagi pemerintah untuk menjadikan kaum muda milenial sebagai target dan sasaran utama moderasi beragama. Menurutnya, ini strategi yang sangat tepat untuk mempersiapkan masa depan kehidupan keagamaan Indonesia di masa kini dan mendatang.

“Di antara mereka (70 persen penduduk usia produktif) adalah kaum muda yang saat ini berusia anak-anak atau remaja yang akan menentukan wajah Indonesia,” ujar Lukman saat menghadiri Festival ‘Meyakini dan Menghargai’ yang digagas Convey Indonesia di Thamrin Nine, Jakarta Pusat, Rabu (20/2).

Lukman menuturkan, masa depan dan wajah Indonesia sangat terkait dengan agama. Pasalnya, berbagai kajian mengkonfirmasi bahwa Indonesia menempati urutan teratas sebagai negara yang warganya menempatkan agama sebagai faktor penting dan menentukan sikap hidupnya.

“Itulah mengapa saya meyakini bahwa dalam konteks beragama dan bernegara di Indonesia. Sering saya mengatakan bahwa mengamalkan ajaran agama adalah cara kita menjaga Indonesia. Sebagaimana juga menunaikan kewajiban-kewajiban negara adalah hakekatnya wujud pengamalan ajaran agama yang kita peluk,” tutur dia.

Program-program moderasi bergama, kata dia, harus menyajikan tafsir agama yang cocok bagi kaum muda atau milenial. Sebab, seiring dengan era perkembangan teknologi informasi, karakter dan perilaku milenial juga semakin berbeda dari generasi-generasi sebelumnya.

“Mereka adalah umat digital, senang dengan materi keagamaan yang dikemas kreatif, inovatif, menyenangkan dan sekaligus mudah diakses,” katanya.

“Jika kita tidak hadir di tengah-tengah mereka untuk menyediakan materi atau konten keagamaan yang sejuk, damai, toleran, dan sesuai dengan watak milenialnya, maka jangan disalahkan kalau bandul keagamaan Indonesia di masa depan mengarah kepada sikap-sikap intoleran, eksklusi, ekstrem, penuh kekerasan, dan bahkan boleh jadi menjurus kepada tindakan ekstremisme,” paparnya.

Editor           : Estu Suryowati
Reporter      : Yesika Dinta