Mengikuti Ditpolairud Mencari Korban Tsunami Saat Anak Krakatau Siaga

JawaPos.com – Ketika status Gunung Anak Krakatau naik ke siaga, nyali Direktorat Polisi Perairan Udara (Ditpolairud) Polda Banten tak surut. Kendati ancaman erupsi hingga tsunami masih tinggi, Kamis (27/12) Ditpolairud tetap melakukan patroli evakuasi dan penyelamatan terhadap korban tsunami.

Jawa Pos ikut dalam rombongan patroli laut yang dipimpin oleh Direktur Ditpolairud Polda Banten Kombespol Nunung Syaifuddin. Dari Dermaga Pelabuhan Kiat Indah, tim patroli mulai berlayar pukul 12.00. Ombak masih terasa tenang, tak berapa lama kapal mulai bergoyang.

Belasan anggota yang berada di kapal tetap berada di posisi masing-masing kendati ombak kian tinggi. Meja kursi yang terpaku di kapal bersuara karena bergeser. Cipratan air ombak sudah tak terhitung telah meraup wajah.

Mengikuti Ditpolairud Mencari Korban Tsunami Saat Anak Krakatau SiagaPetugas Direktorat Polisi Perairan Udara (Ditpolairud) Polda Banten saat mencari korban Tsunami selat Sunda, Kamis (27/12) (IMAM HUSEIN/JAWA POS)

Diperkirakan ketinggian ombak mencapai 3 meter dari tinggi permukaan air laut biasanya. Makin lama, makin tinggi. Sempat sejumlah anggota yang berada di geladak kapal terpaksa masuk ke kabin kapal. Dari dalam kapal, terdengat jelas hampir semua barang berdecit, bergeser karena guncangan ombak.

”Ini masih biasa, kemarin ombak jauh lebih tinggi lebih dari empat meter. Kami tetap patroli,” ujar Kombespol Nunung Syaifuddin.

Namun, ancaman terbesar saat patroli evakuasi ini bukan ombak. Melainkan status Gunung Anak Krakatau (GAK) yang saat naik dari waspada ke siaga. Itu artinya, aktivitas gunung berapi terus mengalami peningkatan yang nyata serta bisa kapan saja mengalami erupsi. Lantas, memicu terjadinya tsunami.

”Saya tahu statusnya naik. Tapi, ini demi menemukan 40 korban yang masih hilang,” tegasnya.

Rencananya, tim patroli akan menyisir dari Pulau Sangiang menuju ke Anyer dan Carita. Pulau Sangiang merupakan salah satu pulau terdekat dengan Anak Krakatau. Sebelumnya, Ditpolairud berhasil mengevakuasi 74 warga dan wisatawan Pulau Sangiang.

”lalu ada tiga orang korban yang meninggal dunia, dua dibawa ke rumah sakit dan satu jenasah diminta warga untuk dikuburkan di Pulau Sangiang,” tuturnya.

Upaya evakuasi warga ini bukan hal mudah. Hingga saat ini masih ada sekitar 50 warga Sangiang yang menolak untuk dievakuasi dari pulaunya. ”Mereka menolak karena mencari makannya di pulau itu,” terangnya.

Berulang kali kecepatan kapal diturunkan. Sejumlah personil lantas memantau laut dan tepian pulau menggunakan teropong. Mereka berupaya menemukan adanya korban yang terbawa ombak lautan. Tentu dalam kondisi kapal tetap terguncang.

Namun, upaya dengan risiko tinggi belum membuahkan hasil. Belum ada penemuan adanya korban hilang. Ditpolairud terus mencoba keberuntungannya. Kapal menyisir mengitari pulau Sangiang lebih dari empat jam. Namun, kondisi cuaca dan risiko terjadinya tsunami membuat perjalanan menuju ke Anyer dan Carita harus diurungkan.

”Kalau cuaca tidak mendukung tentu harus kembali. Risiko kian besar bila dilanjutkan,” ujarnya.

Patroli evakuasi kembali ke dermaga pukul 16.00. Belum ada temuan korban yang bisa dibawa kembali ke daratan. Namun, Nunung menegaskan akan terus berupaya untuk menemukan korban hilang lainnya.

”Saya paham apa yang dirasakan keluarga. Karena itu saya akan berupaya keras bersama personil,” paparnya.

Editor      : Dhimas Ginanjar
Reporter : (idr/JPC)