Mengintip Konservasi Bunga Rafflesia di Kebun Raya Bogor

JawaPos.com – Hingga saat ini Rafflesia atau bunga bangkai masih menjadi bunga kebanggaan bangsa Indonesia. Selain langka, sulitnya membudidayakan menjadi tantangan tersendiri bagi para peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang bertugas di Kebun Raya Bogor.

Secara khusus LIPI mengundang sejumlah media untuk melihat langsung upaya konservasi bunga Rafflesia di Kebun Raya Bogor pada Senin (25/2). Peneliti bunga Rafflesia LIPI Sofi Mursidawati menceritakan apa sebenarnya bunga bangkai raflesia dan bagaimana bisa hidup sampai berwujud bunga raksasa.

Sofi membawa rombongan ke titik khusus konservasi bunga Rafflesia. Kemudian dia menunjukkan sejumlah benih bunga Rafflesia yang masih berupa bonggol. Benih itu menempel pada dahan pohon-pohon Tetrastigma atau semacam anggur hutan.

“Jadi, sebenarnya Rafflesia itu tanaman parasit. Inangnya adalah Tetrastigma,” kata Sofi.

Dia lantas menuturkan benih Rafflesia yang masih seukuran bakso tersebut butuh waktu satu hingga dua tahun untuk bisa mekar menjadi bunga Rafflesia indah.

Saat itu benih Rafflesia yang dia tunjukkan bernama Rafflesia Patma. Sofi mengatakan bonggol benih Rafflesia belum tentu hidup sehat hingga mekar. Sebab tergantung pada kandungan makanan yang ada di pohon inangnya.

Dia kemudian menunjukkan beberapa contoh bunga Rafflesia yang mati sebelum mekar. Wujudnya berupa bulatan hitam seukuran kepalan orang dewasa.

Sofi menjelaskan meskipun nantinya bisa berbunga, Rafflesia belum tentu bisa menghasilkan benih. Sebab ada kalanya seluruh bunga yang mekar adalah jantan semuanya. Atau sebaliknya betina semuanya.

Saat ini di seluruh dunia ada 30 jenis Rafflesia. Sebanyak 13 jenis diantaranya, yakni endemik Indonesia. Bengkulu merupakan salah satu daerah yang banyak ditemukan bunga rafflesia.

Editor           : Estu Suryowati
Reporter      : Hilmi Setiawan