Pariwisata Indonesia Rentan Bencana, Ini Saran BNPB

JawaPos.com – Perkembangan pariwisata di Indonesia luar biasa pesat. Data World Travel and Tourism Council (WTTC) menunjukkan Indonesia berada pada nomor sembilan sebagai negara dengan pertumbuhan pariwisata tercepat di dunia.

Posisi Indonesia terbaik khususnya di Asia Tenggara di atas Thailand yang berada di nomor
12, Filipina dan Malaysia di nomor 13, Singapura nomor 16, dan Vietnam nomor 21.

Pada tahun 2019, industri pariwisata diproyeksikan menyumbang USD 20 miliar.

Merujuk data Kementerian Pariwisata, jumlah wisatawan mancanegara ke Indonesia juga terus mengalami peningkatan sebesar 55 persen secara absolut. Dari 2014 sebesar 9 juta, menjadi 14 juta pada 2017. 

Namun di balik itu semua, industri pariwisata sangat rentan terhadap bencana, apabila
tidak dikelola dengan baik, dampaknya akan mempengaruhi ekosistem pariwisata dan
pencapaian target kinerja pariwisata.

Pariwisata seringkali diasosiasikan dengan kesenangan. Padahal wisatawan melihat keamanan dan kenyamanan sebagai satu hal yang esensial dalam berwisata.

“Bencana merupakan salah satu faktor yang sangat rentan mempengaruhi naik turunnya
permintaan dalam industri pariwisata,” ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB
Sutopo Purwo Nugroho melalui keterangan tertulis, Rabu (16/1).

Sutopo mengatakan, mitigasi dan pengurangan risiko bencana hendaknya ditempatkan sebagai investasi dalam pembangunan pariwisata itu sendiri. Sebab, ketika dalam proses pembangunan setiap USD 1 yang diivestasikan untuk pengurangan risiko bencana, maka dapat mengurangi kerugian akibat bencana sebesar USD 7-40.

“Penataan ruang dan pembangunan kawasan pariwisata hendaknya memperhatikan peta rawan bencana sehingga sejak perencanaan hingga operasional dari pariwisata itu sendiri selalu mengkaitkan dengan ancaman bencana yang ada,” paparnya.

Selain itu, koordinasi perlu dilakukan dengan berbagai pihak. Menurutnya, pantahelix dalam
pembangunan pariwisata dan penanggulangan bencana yang melibatkan unsur pemerintah, dunia usaha atau usahawan, akademisi, masyarakat, dan media hendaknya didukung semua pihak.

“Bencana adalah keniscayaan. Pasti terjadi karena bencana memiliki periode ulang, apalagi
ditambah faktor antropogenik yang makin meningkatkan bencana,” jelas dia.

Risiko bencana, kata Sutopo, dapat dikurangi sehingga dampak bencana dapat diminimumkan dengan upaya mitigasi dan pengurangan bencana.

“Di balik berkah keindahan alam Indonesia juga dampat menyimpan musibah jika tidak
dikelola dengan baik,” pungkasnya.

Beberapa kejadian bencana telah menyebabkan dampak industri pariwisata, antara lain:

1) Erupsi Gunung Merapi tahun 2010, telah mengakibatkan penurunan jumlah kunjungan
wisatawan di beberapa obyek wisata di Yogyakarta dan Jawa Tengah mencapai hampir 50
persen.

2) Bencana kebakaran hutan dan lahan pada Agustus hingga September 2015 menyebabkan 13 bandara tidak bisa beroperasi karena jarak pandang pendek dan membahayakan penerbangan.

Bandara harus tutup, berbagai event internasional ditunda, pariwisata betul-betul
tertekan. Industri airline, hotel, restoran, tour and travel, objek wisata dan ekonomi
yang di-drive oleh sektor ini pun terganggu.

3) Erupsi Gunung Agung di Bali tahun 2017 menyebabkan 1 juta wisatawan berkurang dan
kerugian mencapai Rp 11 trilyun di sektor pariwisata.

4) Gempa Lombok yang beruntun pada tahun 2018 menyebabkan 100.000 wisatawan berkurang dan kerugian Rp 1,4 triliun di sektor pariwisata.

5) Tsunami di Selat Sunda pada Sabtu (22/12) menyebabkan kerugian ekonomi hingga ratusan miliar di sektor pariwisata. Bencana menyebabkan efek domino berupa pembatalan kunjungan wisatawan hingga 10 persen.

Sebelum dilanda tsunami, tingkat hunian atau okupansi hotel dan penginapan di kawasan wisata Anyer, Carita, dan Tanjung Lesung mencapai 80–90 persen.

Editor           : Imam Solehudin
Reporter      : Yesika Dinta