Petinggi BPJS Ketenagakerjaan yang Dilaporkan Amel Itu Berinisial SAB

JawaPos.com – Oknum anggota Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan yang diduga melakukan pemerkosaan itu berinisial SAB. Oknum itu memperkosa korban sebanyak empat kali.

Korban yang berinisial RA menyebut, oknum anggota Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan yang memperkosa dan melakukan kekerasan fisik tersebut berinisial SAB. Pelaku pertama kali melancarkan aksi bejatnya pada 23 September 2016 di Pontianak. Ketika itu korban yang kerap disapa Amel itu, ikut dalam rombongan perjalanan dinas kerja bersama SAB.

Kala itu Amel melakukan perlawanan tapi tak kuasa. Akibatnya perbuatan SAB itu terulang lagi di Makassar. Tepatnya pada 9 November 2016. Perbuatan itu berlangsung saat SAB dan korban tengah menjalani tugas perjalanan dinas ke Makassar. Saat itu SAB tidak bisa mengendalikan nafsu liarnya. Sementara Amel sudah ketakutan dan meminta perlindungan. Namun upayanya itu sia-sia.

Petinggi BPJS Ketenagakerjaan yang Dilaporkan Amel Itu Berinisial SABPelaku pemerkosaan terhadap RA, staf kontrak BPJS Ketenagakerjaan itu berinisial SAB. (Intan Permatasari Piliang/JawaPos.com)

Perbuatan asusila SAB ini akhirnya berlanjut ketiga dan empat kali di Bandung dan Jakarta. Untuk di Bandung pada 3 Desember 2017 berlangsung di rumah SAB. Sementara di Jakarta pada 16 Juli 2018, Amel mengalami kekerasan seksual di sebuah apartemen.

Selain pemerkosaan ada juga berbagai bentuk kekesaran fisik yang dilakukan pelaku terhadap korban. “Kekerasan fisik terakhir pada 28 November 2018 yang bersangkutan ingin melempar gelas ke muka saya dan sempat dibatalkan oleh rekan saya yang di situ,” akunya saat menggelar jumpa per di Kantor SMRC, Jakarta, Jumat (28/12).

Dia mengaku jijik dengan apa yang terjadi terhadapnya. Selama bekerja di BPJS Ketenagakerjaan, Amel berusaha untuk menghindar dari SAB. Namun, korban tidak selalu bisa menghindar. Hal itu membuat pelaku dengan beragam modus berhasil empat kali melakukan pemaksaan hubungan seksual di luar kantor. “Bahkan di kantor pun ia berulang kali memaksa mencium saya,” imbuhnya.

Menurut perempuan berusia 27 tahun ini, perbuatan SAB sangat tidak layak terhadap bawahannya. Apalagi SAB adalah seorang petinggi di sebuah lembaga milik negara.

“Kenapa itu bisa terus terjadi? Saya tidak punya jawaban yang pasti. Saya mungkin memang terlalu bodoh dan penakut untuk melawan,” terangnya.

Takutnya Amel untuk melawan karena si pemerkosa itu adalah seorang tokoh yang sangat dominan, dihormati, dan ditakuti di lingkungan BPJS Ketenagakerjaan. “Saya takut dia akan melakukan kekerasan fisik atau menghancurkan hidup saya,” tandasnya.

Sebetulnya, saat pertama kali diperkosa Amel sudah melaporkan kejadian yang dialaminya itu kepada anggota dewan pengawas yang lain. Namun bukan pertolongannya yang didapat. “Sejak pertama kali saya mengalami kekerasan seksual pada 2016, saya sudah melaporkan tindakan saya tersebut pada seorang anggota Dewas,” tambahnya.

Parahnya, setelah melaporkan perbuatan pelaku yang juga mantan staf ahli Kementerian Keuangan itu, Amel malah tidak mendapat perlindungan. Dia tidak pernah mendapat pembelaan dan perlindungan. “Saya terus menjadi korban pelecehan dan pemaksaan hubungan seksual,” ungkapnya seraya menyebut bahwa sang pelaku itu sudah punya anak dan istri.

Muara dari tindak pemerkosaan yang dialami ini, lajang berusia 27 tahun itu dipecat sebagai tenaga kontrak di BPJS Ketenagakerjaan.

Editor      : Ilham Safutra
Reporter : (ce1/ipp/JPC)