Polisi Diminta Terus Sosialisasikan Larangan Berkendara Sambil Merokok

JawaPos.com – Pengamat transportasi Djoko Setijowarno mengatakan, Pasal 6 Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 12 Tahun 2019 tentang larangan berkendara sambil merokok bukanlah hal baru. Sebab, norma tersebut hanya memperkuat Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

“Sudah lama,” ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa (2/4).

Djoko menuturkan, munculnya keterkejutan publik terhadap kasus pengendara motor yang ditilang akibat mengisap rokok saat berkendara sangat dimaklumi. Sebab, selama ini, aparat kepolisian tidak konsisten untuk menerapkan aturan yang ada. Sehingga dinilai sebagai aturan yang baru.

“Jangankan merokok, yang main HP saja kan tidak boleh. Tapi nggak pernah polisi nilang,” imbuhnya.

Djoko berharap, agar tidak muncul kesimpangsiuran, aparat kepolisian harus bisa menegakkan aturan tersebut tanpa pandang bulu. “Kalau media sudah nulis harusnya polisi berani. Kan sudah jelas rambu-rambunya,” imbuhnya.

Meski demikian, Djoko juga meminta aparat meningkatkan upaya sosialisasinya. Sebab harus diakui, meski UU LLAJ sudah disahkan sejak 2009, namun tidak banyak pengguna motor yang memahami adanya aturan tersebut.

“Perlu sosialisasi di masifkan lagi. Perlu diingatkan,” tuturnya.

Djoko sendiri mendukung kebijakan tersebut. Sebab, mengendarai motor sambil merokok sangat  berbahaya. Bukan hanya bagi pelaku, namun juga bagi pengendara lainnya.

“Kalau merokok di mobil masih mending. Kalau di motor gimana ya. Belum lagi asapnya, abunya mengganggu,” pungkasnya.