Sirkus Tanpa Hewan Lebih Menawan

JawaPos.com – Sirkus identik dengan hewan. Namun, Oriental Circus Indonesia (OCI) mulai meninggalkan kebiasaan tersebut. “Bawa hewan itu repot,” kata Managing Director PT Ananta Harsa Group Hans Manansang.

Dengan membawa hewan, otomatis pengelola sirkus harus memberi makan dan membersihkan kotoran. Padahal, sekali tur, seperti yang akan dijalani OCI di Jawa-Bali, bisa sampai enam bulan. Hans tidak bisa membayangkan ketika harus mengangkut hewan-hewan tersebut berpindah tempat.

Dari sisi biaya pun, tidak membawa hewan lebih efisien. Hans tidak perlu mengeluarkan uang lebih untuk perawatan hewan. Dia bisa mengalokasikan biaya perawatan hewan untuk menggaji talent yang lebih baik dan membiayai tontonan lain. “Kalau ada hewan, penonton dan panggung sirkus akan berjarak,” ucapnya.

Sirkus Tanpa Hewan Lebih MenawanSejumlah pemain dari Oriental Circus Indonesia melakukan pertunjukan The Great 50 Show yang digelar di Komplek Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (14/12). (Ricardo/JPNN/Jawa Pos Group)

Dengan tidak ada hewan, penonton bisa sedekat mungkin dengan pemain. Pemain tampil di depan mata pengunjung. Bahkan, tak jarang mereka juga berinteraksi. Misalnya dengan melakukan tos. “Saya ingin menampilkan sirkus dengan model pertunjukan baru. Selain dari sisi cerita, juga penampilan yang lain,” ucapnya.

Sebelumnya pertunjukan masih sama dengan yang dibuat pada dekade 1960-1970-an. “Dulu tidak ada cerita dan akrobat, tapi ada satwa,” imbuhnya.

Dulu sirkus merupakan pertunjukan “kehebatan” manusia yang tidak terkait satu sama lain. Yang coba ditampilkan OCI kali ini berbeda. Mereka menampilkan penyanyi dengan live music, setting lampu, dan gambar multimedia.

Bahkan, lagu dan musik yang digunakan pun dikarang serta diaransemen sendiri. Hans tak ingin setengah-setengah dalam mengubah paradigma sirkus harus ada hewan. “Saya punya sutradara sendiri,” bebernya.

Hans ingin menampilkan pengalaman melihat sirkus bersama keluarga yang tak terlupakan. Pangsa generasi milenial juga disasar dengan penampilan multimedia dan lighting.

Gerakan akrobatik pemain terlihat semakin apik dengan pencahayaan yang menarik. Mereka mematuhi ritme musik. Tapi juga membuat jantung mencelos karena atraksi akrobat.

Meski mengusung konsep berbeda, OCI tetap mempertahankan ciri khas sirkus. Mereka tetap menggunakan tenda dengan warna kuning biru yang merupakan khas sirkus. Mereka juga memilih lokasi yang berada di tengah kota yang sekiranya banyak orang. Sebelumnya sirkus juga selalu hadir ketika ada kerumunan. Misalnya saja saat acara Sekaten.

Sebagai sirkus yang disebut tertua di Indonesia, sudah seharusnya OCI memberikan contoh sirkus yang modern. Sirkus memang merupakan bisnis yang sebisa-bisanya menarik orang untuk membeli tiket. Namun, OCI menunjukkan, tanpa menggunakan hewan, seribu kursi yang disediakan hampir penuh di setiap pertunjukan. 

Editor           : Ilham Safutra
Reporter      : (lyn/c9/ttg)