YLKI Nilai Harga Kantong Plastik Berbayar Terlalu Murah untuk Konsumen

JawaPos.com – Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi mengatakan penerapan kantong plastik berbayar tidak akan berjalan efektif. Alasannya, harda yang dibebankan ke konsumen sebesar Rp 200 per kanton terlalu murah.

“Sekalipun konsumen dengan 5-10 kantong plastik saat belanja, konsumen hanya akan mengeluarkan Rp 1.000-2.000. Sebuah angka nominal yang tidak signifikan,” ujar Tulus dalam pesan singkatnya kepada JawaPos.com, Minggu (3/3).

Tulus menegaskan, kebijakan kantong plastik berbayar ini harus lebih masif lagi daripada kantong plastik berbayar. Dia mencontohkan, penggunaan kantong plastik SNI yang ramah lingkungan dan mudah terurai sesuai rekomendasi dari Badan Sertifikasi Nasional (BSN) dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

“Masifnya penggunaan kantong plastik memang sudah sangat mengkhawatirkan. Sudah seharusnya pemerintah, pelaku usaha, produsen dan konsumen bersinergi untuk secara radikal mengurangi penggunaan kantong plastik,” imbuhnya.

Bahkan, Tulus menambahkan, pengurangan sampah plastik ini harus menjadi gerakan nasional yang dikomandoi pemerintah di daerah-daerah. Jika hanya penerapan kantong plastik berbayar ini, Tulus menilai pemerintah belum ada keseriusan dalam menyelamatkan pencemaran lingkungan.

“Dan seharusnya bukan hanya menyasar retailer modern saja, tetapi pasar-pasar tradisional, misalnya dimulai dari PD Pasar Jaya,” tegasnya.

Selain itu, dia menegaskan penerapan kebijakan ini jangan hanya kantong saja, tetapi juga pembungkus plastik untuk kemasan makanan, minuman, kosmetik pun harus berbasis ramah lingkungan. Sebab, banyak plastik yang dijadikan bungkus makanan, minuman serta kosmetik.

Sebelumnya, Asosiasi Persatuan Ritel Indonesia (Aprindo) telah memberlakukan kebijakan kantong plastik berbayar Rp 200 per kantong sejak awal Maret 2019. Namun, penerapan ini mash belum efektif lantaran pengusaha retail mesih menunggu aturan resmi dari pemerintah.

Editor           : Saugi Riyandi
Reporter      : Romys Binekasri